Monday, March 26, 2007

Skenario

Suatu hari seorang istri berkata kepada suami, “ayah, lihat ini uang simpanan ibu”. Suaminya menatap uang yang diperlihatkan istrinya sambil berkata, “Banyak sekali bu, darimana uang sebanyak ini?”. Istrinya tersenyum lalu berkata, “dari sisa uang belanja sehari-hari, Yah. Ibu kumpulkan selama berbulan-bulan hingga terkumpul sebanyak 900 ribu ini”. ”Lalu mau dibuat apa uang ini?”, tanya suaminya penasaran. ”Tidak tahu, Yah. Pasti suatu saat ada gunanya”.

Pembicaraan itu berlalu beberapa hari hingga suatu hari sang istri melihat pembantunya merintih kesakitan pada kakinya.
”Ada apa, Bi?”, tanyanya.
”Nggak apa-apa Bu, cuma kaki saya agak sakit”
”Ayo ke dokter, kita periksakan”.
”Nggak usah, Bu, cuma sakit biasa kok”.
”Bibi, kita ke dokter untuk memastikan semuanya baik-baik saja, ayo berangkat”.

Setelah kaki sang bibi diperiksa, hasil analisa dokter menyatakan bahwa kaki bibi terserang penyakit berbahaya dan harus dioperasi. Bibi sangat panik dan bertahan untuk tidak mau dioperasi karena pasti akan memakan biaya sangat besar. Namun, sang istri membujuk bibi agar mau dioperasi agar penyakitnya sembuh. Akhirnya bibi menyetujui untuk dioperasi.

Setelah operasi dilakukan sang suami bertanya pada istrinya. ”Ibu, darimana dapat uang untuk membayar operasi bibi?”. ”Ayah lupa ya, kan ibu punya simpanan dan alhamdulillah biaya operasinya pas 900 ribu”. Sang suami menepuk dahinya, ”Oh iya, tapi Bu uang itu kan ibu kumpulkan selama berbulan-bulan dengan susah payah dan sekarang habis untuk operasi bibi.” Istrinya tersenyum lalu berkata sambil bercanda, ”Ayah, nggak masalah uang itu habis. Daripada ibu yang dioperasi dan ibu yang harus membayar biaya operasinya lebih baik kan bibi yang harus dioperasi dan ibu yang membayarnya”.

Sederhana sekali kisah di atas, tapi kisah ini (pertama kali mendengarnya dari radio MQ FM) begitu berkesan bagi saya. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah singkat ini.

Hidup kita penuh dengan skenario. Ya, skenario indah dari Sang Pembuat Skenario. Siapa yang menggerakkan hati sang istri untuk mengumpulkan uang sisa belanja dan tak tahu akan digunakan untuk apa? Siapa yang memberikan penyakit pada bibi hingga harus dioperasi? Siapa yang menetapkan biaya operasi kaki bibi pas sejumlah uang sisa belanja yang terkumpul? Ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bisa muncul dan semuanya seolah sebuah kebetulan, tapi di baliknya adalah sebuah skenario yang indah.

Hidup kita adalah skenario panjang yang penuh kejutan dan misteri. Terkadang jika kita merenung sejenak dan me-review kembali benang-benang kehidupan kita di masa lalu dan kini, dapat kita temukan sebuah jalinan dan korelasi yang indah di antaranya. Kenapa dulu kita harus mengalami sebuah kejadian? Setelah kita review saat ini sering kita temukan jawabannya kemudian. Terkadang kejadian itu begitu menyakitkan bagi kita, tapi ketika hari-hari telah berlalu dan jawaban atas kejadian itu terungkap justru kita akan merasa sangat bersyukur mengalami kejadian itu. Terkadang, sesuatu yang kita kira baik untuk kita belum tentu baik untuk kita di mata Allah, dan sebaliknya sesuatu yang menurut kita tidak baik untuk kita belum tentu tidak baik untuk kita menurut Allah. Jadi, apapun yang diberikan kepada kita adalah yang terbaik, bukan menurut ukuran kita, tapi menurut ukuran Allah.

Seorang teman pernah berkata kepadaku bahwa hidup ini adalah seperti sebuah sekolah dengan Allah sebagai pembuat kurikulumnya. Sebuah pelajaran tidak akan diberikan kepada kita jika Sang Pembuat Kurikulum memutuskan kita belum siap untuk menerimanya. Mungkin, dengan berpikir seperti itu akan membuat kita lebih tenang dan tawakal. Seperti kisah seniorku yang kemarin harus kehilangan bayinya. Setelah kejadian itu berlalu, dia berkata kepadaku bahwa mungkin masih banyak hal yang menjadi amanahnya dan harus segera diselesaikan, salah satunya kuliahnya yang sudah molor setahun dan masih banyak mata kuliah yang harus diambil. Ya, semua pasti ada hikmahnya. Seorang teman satu kost juga pernah bercerita bahwa sekarang ia sedang bingung karena begitu banyaknya orang yang ingin bertaaruf dan melamarnya. Hmm, aku hanya berkomentar seperti kata temanku, sebuah pelajaran tidak akan diberikan jika kita belum siap menerimanya jadi kalau sekarang sebuah pelajaran diberikan, Sang Pembuat Kurikulum mungkin menganggap kita sudah pantas untuk menerimanya, dengan kata lain teman satu kostku itu mungkin memang sudah waktunya untuk segera memutuskan memilih ’teman sejati’-nya. Satu tambahan lagi, yang pasti ketika sebuah pelajaran datang pada kita, Allah juga sudah menyiapkan bekal untuk kita agar bisa melalui pelajaran itu. Jangan takut dan resah jika sesuatu yang sangat kita harapkan belum dikabulkan, terus berdoa dan berikhtiar, sambil menunggu ’pelajaran’ itu siap kita dapatkan.

Pelajaran kedua, seringkali kita menyepelekan nikmat yang diberikan oleh Allah dan pada setiap kejadian buruk yang kita alami pasti masih ada yang bisa kita syukuri . Kesehatan, bisa melihat, bisa mendengar, terlahir sebagai anak normal adalah nikmat yang sangat besar. Nikmat, tidak harus berupa harta benda, materi, atau berbentuk fisik. Seseorang berkata harta manusia itu ada 3, makanan yang jika sudah kita makan akan jadi kotoran, benda-benda yang jika sudah kita pakai akan usang, dan sedekah yang akan jadi simpanan kita di akhirat. Jangan takut untuk sedekah dan menghabiskan uang kita untuk membantu orang lain karena siapa yang meringankan beban saudaranya di dunia maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat. (kayaknya justru ini simpanan harta kita yang terbesar ya??).

Madiun, 26 Maret 2007

1 Comments:

At 11:05 PM, Blogger syawal said...

Assalamu'alaikum
wah bagus ya trims cerita sangat bagus
ana jadi tergugah

 

Post a Comment

<< Home