Monday, November 20, 2006

Siap menerima & siap kehilangan

Siap Menerima & Siap Kehilangan

Aku memiliki sahabat dekat di kampus, kakak kelas angkatan 2002 yang biasa kupanggil “teteh”. Sebenarnya hubungan kami biasa-biasa saja seperti hubunganku dengan teteh-teteh yang lain. Namun, ada beberapa hal yang membuat hubungan kami menjadi tidak biasa, satu : tanggal ulang tahun kami hanya selisih satu hari, dua : hari pernikahan kami pun selisih satu hari pula, tanggal 26 April 2006 dan tanggal 27 April 2006, tiga : setelah menikah kami sama-sama jauh dari suami. Sebuah kebetulan memang.

Bulan April telah berlalu dan kami menjalani kuliah bersama seperti biasa hingga hari itu tiba, ketika teteh dengan berbinar berkata padaku bahwa dia hamil. Aku senang sekali mendengarnya, emh akan ada keponakan baru nih, dan itu berarti keponakan pertama di keputrian Az-Zahra kami. Sejak itu, aku jarang bertemu teteh lagi, menurut teteh-teteh yang lain teteh memang jarang kuliah. Dengan kondisi hamil muda yang disertai mual dan muntah yang berkepanjangan pasti cukup berat untuk masuk kuliah setiap hari hingga semester genap saat itu bagi teteh berlalu begitu saja karena tidak dapat mengikuti UAS.

Bulan September menjelang bersama mentari yang cukup panas dan terik di Bandung, suhu tertinggi Bandung dalam sejarah, 26 derajat Celcius….wuihh….

Bulan ini perkuliahan semester ganjil dimulai dan kudengar teteh mengambil cuti. Emh, senangnya teteh diberikan kelonggaran untuk beristirahat selama hamil. Sedangkan aku, bulan ini walaupun hamil muda tetap harus semangat kuliah. Mual dan muntah…? Emh, alhamdulillah nggak terasa tuh karena sudah didisposisikan ke suami (memangnya Nota Dinas yach pakai disposisi segala), he..he..he…(sampai semua bertanya, ini beneran hamil nggak sih, kok nggak ada mual muntahnya, jadi nggak seru dong…ternyata ibu dan ibu mertuaku juga nggak mual & muntah tuh selama hamil pertama ).

Ramadhan datang dan pergi, Syawal menjelang bersama harapan kesucian di hati dan hari-hari baru dengan sinar matahari hangat di kalbu. September…Oktober…November…kubalik-balik kalender di meja. November…!!! Teteh sudah mendekati hari melahirkan. Pada bulan kelima kehamilannya lalu kudengar teteh harus bed rest karena letak janin terlalu ke bawah, jadi kemungkinan mulai bulan ketujuh harus siap jika lahir prematur. Setelah liburan lebaran aku belum sempat bersilaturahmi ke rumah teteh hingga hari Jumat lalu sebuah SMS datang. Surprise, dari teteh…!!

“Alhamdulillah, teteh sudah melahirkan, tapi bayinya meninggal, minta doanya ya….”

Aku terpaku membaca SMS itu, antara percaya dan tidak percaya. Segera aku menghubungi teteh-teteh yang lain, yang ternyata juga sudah mendapat sms dari teteh. Hari itu juga aku pergi ke rumah sakit dan menjenguk teteh. Di atas tempat tidur yang putih bersih itu, dia terbaring lemah dengan wajah pucat dan senyuman manis. Aku bingung harus berkata apa, hanya ucapan, “sabar ya teh, insyaAllah adeknya akan jadi penolong teteh di Sidratul Muntaha nanti”. Teteh banyak bercerita tentang kejadian itu, kenapa adek sampai meninggal. Katanya, terlilit plasenta di dalam perut, tetapi tidak terdeteksi sejak dini sehingga waktu periksa detak jantung sudah tidak ada. Saat ini juga teteh masih ingat sakitnya melahirkan. Aku jadi teringat dan berfikir, kata orang melahirkan memang sakit, tapi semua rasa sakit itu akan sirna ketika mendengar tangisan bayi dan memandang si mungil itu. Namun, ini teteh melahirkan bayi yang sudah meninggal dalam kandungan. Aku hanya bisa berkata, “sabar ya teh, insyaAllah untuk setiap kesakitan akan dihapuskan satu dosa hingga semua dosa berguguran dan teteh kembali suci”, lalu kami tertawa. “Dijaga ya si Oton*”, pesannya kepadaku sambil tersenyum.

Aku tidak bisa memperlihatkan wajah sedih di hadapan teteh, hingga 2 jam lebih aku menungguinya kami banyak bercerita dan tertawa. Namun, ketika aku berpamitan dan pulang aku tidak bisa membendung air mataku, aku benar-benar sedih dan menangis. Rasanya pasti berat sekali bagi teteh dan bagi kami, teman-temannya pun ini terasa menyedihkan. Hingga hari Sabtu, ketika suamiku datang aku curhat tentang teteh sambil tak kuasa untuk menangis. Mas hanya berkata, “ya begitulah Dhik, ketika siap menerima berarti kita juga harus siap kehilangan”. Aku terus mengingat kata-kata itu. Ya, ketika kita siap menerima berarti harus siap kehilangan karena semua hanyalah titipan. Ketika kutatap wajah suamiku, aku jadi berpikir bahwa suatu saat pun aku harus siap kehilangan suamiku. Ketika kuteringat orang tuaku, suatu saat pun aku harus siap kehilangan orang tua. Ketika aku mendapatkan sesuatu berarti aku juga harus siap melepaskannya. Simple sekali, siap menerima = siap kehilangan. Namun, terkadang kita terlena dengan apa yang ada di tangan kita dan tidak menyadari bahwa semua itu hanya titipan. Harta, suami/istri, anak-anak, sahabat, saudara, semua hanya titipan. Bukankah akan tiba suatu hari dimana masing-masing begitu egois untuk membela diri dan menyalahkan orang lain, tidak peduli ayahnya, ibunya, suami/istrinya, saudaranya, anak-anaknya, kecuali tali ikatan yang didasari oleh keimanan.

Saat kutulis artikel ini, kuusap perutku perlahan dan aku berkata lirih pada janin berusia 137 hari yang dititipkan dalam rahimku ini, “Adek, suatu saat pun ummi harus siap kehilanganmu”.

Nb: si Oton : panggilan Sunda untuk menyebut bayi yang masih dalam kandungan

Bandung, 21 November 2006

1 Comments:

At 10:40 PM, Blogger dhedhe said...

asih, ceritanya koq sedih jadi membuat aku merinding tapi begitu membaca paragraf terakhir aku jadi senang akhirnya akhir sudah hamil 137hari, bahagia rasanya mendengar kabar itu setelah sekian lama tidak berjumpa.

Salam buat keluarga dan suami

best regards,

dhedhe
dhedhe.dearr.info

 

Post a Comment

<< Home