Friday, August 20, 2004

Donor Darah

Assalamu’alaikum wr wb
Donor Darah!! Rasanya aku ingin menutup muka dan berlari sekencang-kencangnya mendengar kata itu. “Ayolah, Dik, nggak akan apa-apa kok”, bujuk seorang bapak di sini. Aku masih merasa pucat pasi, tapi berlahan aku menjawab yakin, “insyaAllah”.

Seorang istri karyawan di tempat aku bekerja sedang dirawat di rumah sakit dan tiap hari harus cuci darah dengan menghabiskan labu darah sebanyak 12 buah. Persediaan labu sebanyak itu terbatas di Unit Transfusi Darah sehingga seorang karyawan di sini mengusulkan karyawan2 lain yang memiliki golongan darah O untuk mendonorkan darahnya. Gerakan pencarian karyawan berdarah O mulai dilakukan dan terjaringlah beberapa orang(termasuk aku). Awal mulanya aku menjerit, “oo…tidakkkk”, membayangkan bahwa darahku akan diambil sebanyak itu. Kalau pingsan bagaimana, kalau kekurangan darah bagaimana, kalau jarumnya sakit gimana, kalau..kalau…upsss.
“Ayolah Dik, darah kita ternyata bermanfaat untuk orang lain loh”, bujuk bapak tersebut lagi. [Aku tertawa]

Pada hari pendonoran itu, aku sedikit khawatir. Pasalnya, karyawan2 lain yg ikut telah memiliki pengalaman mendonorkan darahnya. Dalam perjalanan ke PMI aku sering bertanya tentang mekanisme donor nanti dan semuanya menyimpulkan bahwa tidak akan apa-apa.

Setelah mengisi formulir petugas mengambil contoh darah dengan jarum yang dimasukkan ke dalam semacam alat seperti bolpoint. Rasanya seperti disentak dan agak sakit(seperti terkena ujung bolpoint yang runcing). Darah yang diambil dimasukkan ke sebuah cairan dalam sebuah gelas kecil. Aku tidak sempat bertanya macam2 karena karyawan2 yang lain terus menerus menggodaku. Cairan itu berwarna kebiru-biruan dan kulihat tetes darah yang dimasukkan tadi melayang-layang di air tersebut. Ketika kutanya pada seorang ibu, beliau menjawab bahwa cairan itu untuk mengetahui kadar trombosit seseorang. Jika darah tersebut langsung tenggelam bearti ia memiliki trombosit yang rendah(dan mungkin tdk akan diperbolehkan donor). Selanjutnya ada sebagian darah yang diteteskan ke sebuah kertas, mungkin ini untuk memastikan golongan darah seseorang karena aku merasa pernah mengalami hal ini, dulu sekali, waktu pemeriksaan golongan darah di SLTP.

Beberapa waktu kemudian aku dipanggil untuk menjalani pemeriksaan tekanan darah. Aku agak terkejut mengetahui bahwa tekanan darahku hanya 110/70 karena di brosur mekanisme pendonoran yang sempat aku baca di ruang depan, tekanan darah si pendonor harus 120/80. Saat kutanyakan pada dokter, beliau mengatakan tidak apa-apa, ini adalah tekanan yang masih diperbolehkan untuk donor.

Setelah itu aku harus mencuci tangan(sampai lengan) dan berbaring di tempat tidur untuk mulai diambil darahnya. Petugas donor mencari letak pembuluh darah di lenganku lalu memasukkan jarum suntik. Aku sedikit bergidik dan merasa sakit. Paling tidak aku pernah trauma dengan jarum suntik dan infus yang kurasakan sangat sakit sekali dahulu ketika pernah terserang penyakit thypus. Namun, rasa sakit saat ini hanya sebentar dan kemudian kulihat darah mengalir deras dari selang yang dihubungkan ke kantong darah.
Darah terus mengalir dan, alhamdulillah, aku merasa seperti tidak terjadi apa-apa. Karyawan2 lain telah selesai dan aku menjadi yang terakhir(mungkin karena baru pertama kali donor, tapi apa ada hubungannya ya ?). Ketika kutanyakan pada petugas kenapa kantong darahku tidak segera penuh, beliau mengatakan tergantung pembuluh darah masing-masing. Beberapa waktu kemudian petugas donor menjepitkan sebuah gunting di selang dan sebuah jepit lagi dengan jarak beberapa centi dari penjepit pertama. Selang dengan jarak beberapa centi dari penjepit kedua ke arah kantong darah lalu digunting. Dari selang sisa yang masih terhubung ke lengan diambil darahnya untuk dimasukkan ke dalam sebuah tabung kecil. Berlahan balutan di lengan dibuka dan jarum diambil. Petugas menyarankan untuk menekan lubang bekas jarum suntik dan meletakkan tangan di atas lalu menutupnya dengan plester.

Selesai melakukan donor kami mendapatkan telur, pop mie, dan vitamin. Alhamdulillah, aku senang sekali mendapatkan pengalaman donor darah ini. Seseorang mengatakan padaku bahwa jumlah darah dalam tubuh seseorang itu tetap. Dengan donor darah ini maka tubuh akan membentuk darah baru sebagai pengganti darah yang diambil. Bila seseorang tidak melakukan donor darah maka darah yang ada di dalam tubuhnya tidak akan berganti.

Terkadang untuk memulai sesuatu, yang insyaAllah positif, itu banyak sekali hambatan yang bermunculan. Rasa takut, pikiran buruk, sugesti negatif, dan bermacam alasan lainnya. Padahal mungkin bila kita mempunyai keberanian sedikit saja untuk memulainya dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja, semuanya akan bisa dilalui. Sungguh sulit sekali untuk meyakinkan diri sendiri(bagiku). Ada orang yang bisa dengan mudah dan mantap yakin pada dirinya sendiri. Ada pula orang yang memerlukan tatapan lembut, pengertian, dan penuh dorongan dari orang lain untuk membantunya meyakinkan diri sendiri.

Nb:
Tgl donor darah : 20 Agustus 2004
Tempat : PMI Cab Bdg, Jln Aceh


Wassalamu’alaikum wr wb

0 Comments:

Post a Comment

<< Home