Thursday, July 29, 2004

kepingan-kepingan kepribadian

Assalamu’alaikum wr wb
Aku baru selesai membaca buku Personality Plus. Subhanalloh, bagus sekali. Buku itu membahas tentang berbagai type kepribadian, kelebihan dan kelemahannya. Aku pikir, setiap orang harus membaca buku ini. Paling tidak untuk mengenal lebih jauh tentang dirinya dan orang lain. Sejak membaca buku itu, aku begitu bersemangat untuk lebih jauh mengenal teman-temanku. Ketika aku selesai membaca satu type kepribadian, aku mencoba mengingat teman-temanku yang berpotensi memiliki type ini, dengan begitu jika ada sifatnya yang menurutku aneh atau bertentangan dengan sifatku, aku jadi lebih bisa menoleransinya dan mengambil sikap yang tepat untuk menghadapinya. Setiap manusia diciptakan dari bahan yang berbeda, begitu kata buku itu.

Alhamdulillah, aku telah melalui satu tahun masa kuliah. Kuliah itu dimulai bulan September tahun 2003. Karena pagi aku bekerja, aku mengambil kelas karyawan dalam studi S1 selama 4 tahun ini. Pada awal-awal masa kuliah, aku cukup kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan kampusku. Segalanya begitu berbeda dengan yang pernah kualami selama ini. Sistem belajar yang berbeda, menuntut perubahan-perubahan secara cepat, dan kedinamisan yang tinggi. Pada awalnya aku begitu benci karena aku tidak terbiasa dengan sistem seperti ini. Aku terbiasa dengan rencana, rutinitas, dan keteraturan. Di sini segalanya berbeda dan aku harus, mau tidak mau, mampu tidak mampu menyesuaikan diri.

Satu hal lagi yang menjadi ganjalan adalah tentang teman-teman sekelasku. Dalam kelas karyawan tersebut hanya ada 10 orang dengan sifat yang berbeda-beda[ dan buruknya, sebagian besar dari mereka tidak memiliki kecocokan dengan sifatku]. Dari 10 orang tersebut hanya ada 3 akhwat. Satu akhwat adalah teman SMK-ku, dan sejak dulu kami tidak pernah bersama dalam satu kelas atau group. Itu membuat aku cukup kesulitan untuk lebih dekat dengannya. Satu lagi, aku baru mengenalnya, dan sejak pertama aku begitu kaget bahwa ada anak yang begitu ramai, aktif, dan banyak omong seperti dia. [Aku pasti selalu tertawa bila mengingat pertemuanku pertama dgn temanku ini karena tiba2 sekarang kami menjadi sahabat akrab :D ]. Yang lainnya, emm aku hanya tahu sepintas lalu, dan aku cenderung menghindari persahabatan yang begitu akrab dengan ikhwan.

Aku tidak bisa terus menerus seperti ini. Seharusnya aku tidak dikalahkan oleh kelemahan seperti ini. Selama semester pertama aku terus menganalisis perkembanganku dalam studiku ini. Lambat laun aku bisa menyesuaikan diri dengan sikap teman-temanku yang kadang bertentangan. Aku tak harus terlalu jauh terlibat dengan mereka, tapi aku juga tidak bisa menjauhi mereka. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa membuka diri dan itu sangat penting bagiku karena pada akhir2 semester pertama, aku telah merasa mulai bisa menyesuaikan diri.

Pada awal semester kedua aku telah berjanji untuk mengatur kembali rutinitasku. Namun, ternyata aku masih sulit sekali mendisiplinkan diri. Aku jadi merasa bersalah dengan hal itu dan kadang aku merasa bingung, mengapa aku harus merasa bersalah, bukankah hal-hal yang mendadak itu terjadi di luar kendaliku. Harusnya aku tidak merasa bersalah, tapi justru berusaha mengalahkan perasaan itu dan mencari alternatif. Aku jadi merasa bahwa musuh terbesarku adalah diriku sendiri. Aku selalu khawatir dan cemas dengan ketidakteraturan dan kekosongan waktu tanpa aktifitas. Mengapa ?

Aku menemukan buku personality plus setelah sebelumnya aku membeli buku personality puzzle, tapi aku tidak pernah mengerti yang dimaksudkan di buku itu. Setelah aku membaca personality plus ini ada suatu pengetahuan baru yang sangat mengasyikkan. Begitu aku membaca type2 kepribadian itu aku jadi mengerti dengan semua sikapku ini karena kecenderungan type melankolis padaku. Aku tertawa bahwa semua yang ditulis di buku itu adalah cocok dengan sifatku selama ini dan aku tidak perlu cemas dengan semua ini. Aku mulai mencoba mencocokkan sifat teman2 dengan type2 dalam buku itu dan mulai menyadari bagaimana respon mereka terhadap sifatku sesuai buku itu. Pasti kadang teman yang bertype sanguinis sangat tidak nyaman padaku karena sifatku yang menuntut kesempurnaan, perencanaan matang dan lama, dan keteraturan. Teman dengan type khorelis pasti sangat menyakitkanku dengan sifatnya yang cenderung kasar, suka bertindak cepat, berbicara tanpa ada pemikiran dan perencanaan dulu, dan suka mengatur. Ia juga pasti tidak suka denganku yang sangat lamban mengambil keputusan. Teman plegmatis mungkin akan diam saja, mengomentari kecemasan dan tuntutan standar tinggiku dengan damai dan bijaksana, lalu berpikir aneh tentang diriku, mengapa di dunia ini ada orang seperti aku. Aku jadi tertawa bila membayangkannya.

Pada tulisan ini, aku akan sangat senang menuliskan catatan kecilku tentang teman-teman di lingkungan kampusku dan type yang kupikir melekat padanya. [aku tahu ini mungkin penilaianku bisa salah, tapi paling tidak mengingatkan aku untuk lebih memahami mereka]

Dewi. Dia adalah teman akrabku selama studi 1 tahun ini. Tak kuragukan lagi, di sanguinis sejati. Dia selalu ceria, banyak memiliki kenalan, banyak berbicara, bisa menyesuaikan diri dengan siapapun, memiliki kecenderungan untuk selalu bersenang-senang, dan kadang terlihat kacau di mataku. Buku itu menyebutkan bahwa teman sejati orang melankolis adalah sanguinis, dengan perbedaan yang cukup besar mereka bisa saling mengisi, dan aku setuju dengan pernyataan itu. Melankolis perlu mendisiplinkan orang sanguinis dan sanguinis perlu menggembirakan orang melankolis.

Novi. Dia teman SMK-ku dan bekerja di tempat yang sama denganku. Dari penilaian besarku padanya, dia bertype khorelis. Tegas, bertindak cepat, baik dalam mengatur dan memimpin, berbicara spontan dan menurutku kadang itu menyakitkan. Namun, buku itu menyebutkan bahwa melankolis harus benar2 mengerti bahwa itu adalah sifat kholeris dan itu tidak salah. Melankolis hanya perlu mengabaikan pembicaraan spontan yang tidak dimaksudkan untuk menyakitinya, tapi kelemahan melankolis adalah merasa bahwa setiap orang memiliki maksud dalam pembicaraannya, tidak ada kata yang terucap tanpa makna & maksud, tapi begitulah bagi kholeris dan juga sanguinis dengan penyajian yang berbeda.

T’ Yunita. Dia senior angkatan 2001. Aku cukup memiliki banyak waktu dengannya dan penilaianku tentangnya adalah plegmatis yang damai. Dalam banyak hal terkadang aku merasa bahwa aku cukup kooperatif dengannya terutama dalam merencanakan sesuatu. Aku begitu bersemangat merencanakan dan dia akan tenang mendengarkan dan memberikan dorongan. Satu hal lagi tentangnya, dia sangat sensitif dan butuh motivasi.

T’ Rita. Seniorku angkatan 2002. Aku memiliki banyak kesamaan dengannya dan aku membenarkan diriku bahwa dia melankolis, sama sepertiku. Tidak menyukai sesuatu yang tidak teratur, suka merencanakan dengan seksama, menginginkan kesempurnaan. Aku jadi berpikir bahwa mungkin orang2 dengan type kepribadian yang sama cocok untuk bekerjasama dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan tertentu, tapi untuk menjalani kehidupan yang panjang dan lama hal itu mungkin jadi cukup berat karena tidak ada variasi dalam hidup mereka.

Teman2 keputrian Az-Zahra[T’ Tika, T’ Fitri, T’ Dian, T’ Isti]. Berdasarkan penilaianku dgn T’ Dewi, senior ’99, senior2 ini memiliki type sanguinis. Jika berkumpul kami selalu bercanda dan kadang agak susah diajak serius. Namun, itu memberi warna lain pada hidupku, ibarat mata air di tengah padang pasir. :D

Kang Davis. Ini adalah asisten dosen yang selama setahun ini setia menemani kegiatan praktikum kelas kami. Dari penilaianku, dia pasti type melankolis dengan plegmatis yang juga kuat. Menurut T’ dewi, dia sangat baik, tapi sangat disiplin. Jiwa seni, sensitif, penuh perencanaan, kedisiplinan, dan kepekaannya pasti adalah sifat melankolis. Tapi, salah satu sifat yang tdk mendokumentasikan karya-karyanya itu bukan type melankolis. Dalam beberapa hal kupikir dia bersifat plegmatis, cinta damai, jarang marah, suka dinasehati, dan tidak suka bertengkar.

Kang Dede. Ini juga asisten dosen yang pernah mengajar selama satu semester. Aku pikir dia sanguinis. Sangat perhatian, usil, dan bercerita dengan bersemangat. Bila dia digabung dengan Dewi pasti akan jadi pasar malam dadakan, ceria, bercanda dengan berlarut-larut, kadang susah diajak serius, dan satu lagi….suka merayu…heheheh…Dia dan Dewi pasti bisa menjadi orang yang menggembirakanku.

Eko. Teman SMK-ku ini tak diragukan lagi memiliki sifat plegmatis. Dia benar2 cinta damai, memandang dunia dengan caranya, romantis, dan bijaksana sekali.

Mas Boy. Teman sekelas yang baik dan penuh perhatian kepada semua orang. Kupikir dia kholeris dengan campuran plegmatis. Motivasinya kuat dan ia yakin bisa mencapai tujuannya dengan caranya[ini adalah khas kholeris]. Sifat baiknya adalah khas orang plegmatis. Secara keseluruhan dia adalah teman yang baik dan siap membantu kapan pun.

Teman-teman sekelas lainnya secara keseluruhan memiliki type sanguinis. Paling tidak orang2 yang kusebutkan di atas memiliki sifat menonjol yang bersesuaian dengan type2 kepribadian dan tingkat connectivity yang cukup baik denganku dalam lingkungan kampusku dibandingkan yang lain dan aku memiliki catatan-catatan khusus tentang mereka.

Setelah aku membaca buku kepribadian plus dan mencoba mencocokkan dgn teman-temanku, ada banyak hikmah yang bisa kupetik. Aku bisa mencoba membuat sikap yang baik dalam menghadapi mereka. Aku tidak perlu sakit hati dengan sikap mereka dan mencoba mengerti bahwa sebenarnya mereka semua baik dan tidak bermaksud menyakitiku. Itu satu hal yg paling penting bagiku terhadap sifat sensitif dengan intensitas tinggi yg selama ini kumiliki. Aku harus berusaha melonggarkan standar2 tinggi dan kesempurnaanku dalam hubunganku dengan teman-teman karena tidak semua orang bisa memahami apa yang kupikirkan. Hal terbaik yang harus kubangun sekarang adalah berusaha menghargai sikap mereka, tanpa harus mempermasalahkan dan memikirkan, mengapa mereka melakukan ini dan itu [bagi orang melankolis sangat sulit memahami mengapa orang lain tidak memiliki pandangan yg sama dengan mereka].

Alhamdulillah, buku yang sangat bermanfaat. Sekali lagi aku berpikir bahwa setiap orang harus membaca buku ini.

:)

Wassalamu’alaikum wr wb

4 Comments:

At 1:33 AM, Blogger novan_aulia said...

subhanalloh wal hamdulillah ...

smoga antum makin produktif dengan tulisan yang makin membuat ghirahku meninggi ...

rindu banget dengan saat dimana sifatku bisa ternilai jelas oleh ikhwah terdekatku ...

Antm?

 
At 12:03 AM, Blogger 361fernandi said...

assalamualaikum ukhti yang dirahmati Allah , sukron informasinya, ana jadi tertarik tuk membacanya. btw kok bloggernya ga pernah diisi lagi. he he..

oh iya masih aktif ga di DKM. kan mo penerimaan mahasiswa baru.

<361>

 
At 3:19 AM, Blogger no_ova said...

assalamu'alaikum wr.wb
salam kenal...
gimana kalo kita buat Club Study Melankolis, wadah buat temen-temen yang merasa senasib (sama2 melankolis) buat curhat, buat evaluasi diri dll. Karna jujur, kadang jadi orang melankolis, susah juga ya...kadang jadi kepikiran dan ngalamin sedih yang gak beralasan, dan kadang itu mengganggu banget thd aktivitas harian kita, apalagi buat kita yang sibuk dan punya banyak amanah, kalo hanya karena masalah kecil yang lain jadi gak beres rasanya menyedihkan sekali...gimana setuju gak?
Semoga kita termasuk orang yang senantiasa dirahmati Allah swt.
Wassalamu'alaikum wr. wb
-Dari orang yang merasa dirinya melankolis juga*_*-

 
At 9:43 PM, Blogger Nur Kumala said...

assalamualaikum ukhti...
alhamdulillah dan rasa syukur yang sangat besar yang harus kita berikan pada sang "creator" seluruh alam yang telah menciptakan manusia dengan sifat yang berbeda.,,

saya kepengen banget bisa jadi teman yang baik buat semua orang...
tanpa harus merubah kepribadian ini -itu kalo ketemu ma teman yang berbeda dalam segi pemahaman agama,,,

Doakan sy ya ukhti..supaya bisa istiqomah....

 

Post a Comment

<< Home