Friday, May 28, 2004

Yang Dirindu

Bismillahirrohmanirrohim

Waktu terus berjalan..tik..tik..detik terus berlari...ini adalah malam penghujung tahun 2003...

Wajah tuanya menatap nanar malam ini. Keriput wajahnya menemani kesepian malam ini. Matanya kosong menatap langit-langit kamar. Suara gemuruh di luar dan suara kembang api gegap gempita hanya dapat didengarnya samar-samar. Ah, pendengarannya sudah mulai kabur.

Berlahan ia turun dari ranjangnya..begitu sulitnya kini dirinya berjalan. Tertatih-tatih ia menuju jendela bertirai putih bersih. Disingkapnya pelan dan dinikmatinya gemerlap kembang api di langit bersih malam itu. Di tatapnya jari-jemarinya yang gemetar memegang tirai. Diingatnya 30 tahun lalu tangan ini begitu kuat dan halus. Diusap wajahnya berlahan dan dirasakan garis-garis keriput kasar itu semakin banyak. Dikenangnya 30 tahun lalu wajah ini begitu halus dan menawan. Berlahan ia mendesah...bukankah waktu terus berjalan dan ia serasa sudah ada di penghujung usia.

Tetes air mata hangat tanpa disadarinya telah turun ke pipi. Ia mulai mengenangkan teman sejatinya. Orang yang selama setengah abad lebih telah menemani perjalanan hidupnya. Namun, tiga tahun lalu teman sejati itu telah mendahului menemani Rabbnya. Tiga puluh tahun lalu mereka masih bersama menyambut tahun baru di rumah mungil mereka di puncak gunung. Menikmati sederet bintang jatuh di langit, dan menyambut matahari pertama di tahun itu. Itu tinggal kenangan.

Ia belum hendak beranjak dari tempat itu. Matanya pun tiada mau bekerja sama untuk tidur. Kenangannya beralih kepada lima orang putra-putrinya. Apa yang sedang mereka lakukan saat ini. Apakah mereka ikut berlarut dalam keramaian tahun baru ini. Berhura-hura dan bersenang-senang sambil meniup terompet. Berlahan hati kecilnya berkata, seandainya mereka mengalami saat-saat seperti yang dirasakannya saat ini .. terpuruk dalam kesepian dan kesunyian..dan penantian akan datangnya utusan dari langit untuk membawanya ke hadapan Yang Memilikinya. Akankah hati akan merasa tenang sebentar saja..dan akankah diri akan terlalai sekejap saja dalam mengingat-Nya.

Waktu memang tiada kuasa untuk dihentikan. Setiap saat perubahan terus terjadi. Hidup di dunia seakan sebentar saja baginya, karena seperti kemarin baru saja ia masuk sekolah pertama kali hingga kini saat ia telah memiliki beberapa cucu. Seandainya ia mampu memohon..keinginannya adalah selalu berkumpul bersama putra-putrinya. Namun, mereka memiliki kehidupan sendiri dan kebahagiaan sendiri. Tugas mulianya sebagai seorang ibu telah hampir berakhir dan ia ingin beristirahat dalam ketenangan dan kedekatan kepada Rabbnya.

Namun, setahun lalu tatkala keinginan itu begitu kuat dan begitu rindunya ia akan kebersamaan. Putra pertamanya membawa ia ke asrama ini. Kata putranya, ia akan pergi ke luar negeri dan tidak bisa membawa ibunya ikut serta. Jika pulang nanti ia akan menjemput ibunya. Namun, hati seorang ibu amatlah halus...ia tahu putranya tidak akan pernah menjemputnya. Selama setahun di sini tiada seorang pun yang mengunjunginya di sini. Betapa perih dan teriris hatinya. Betapa terlukanya perasaannya dan hati siapakah yang tiada lebih berduka daripada hati lembut seorang ibu yang didurhakai putranya sendiri?

Sebuah tangan lembut mengusap punggungnya, ia tersentak dari lamunan panjangnya. Sebuah tangan lembut yang memberinya kehangatan.

“Ibu belum tidur..ini sudah larut malam..”, bisik pemilik tangan hangat itu.

Diperhatikannya seraut wajah lembut yang berdiri di dekatnya itu.

“Ini malam tahun baru...?”, tanyanya lirih.

“Ya bu, besok sudah tahun 2004..semoga Allah selalu meridhoi jalan kehidupan kita..dan memberikan petunjuk-Nya..”

Wanita itu menangis terisak dan tenggelam dalam pelukan pemilik wajah lembut itu, salah seorang perawat di panti jompo ini. Air matanya sudah tiada bisa dibendung lagi dan kesedihannya sudah tiada terkira lagi.

“Ibu rindu..”, ucapnya lirih.

Perawat itu termenung sebentar. Rindu, kata itu begitu lekat di hati ibu tua ini. Kerinduan yang sejak setahun lalu tertahan yang lalu setiap harinya ia terus menelan kepahitan oleh realita kehidupan yang dijalaninya. Bukanlah ia hendak meminta balas perjuangan sucinya sebagai pemilik pintu surga hingga saat ini dengan kedekatan dan kebersamaan, bukanlah ia hendak menuntut atas semua pengorbanan dan ribuan peluh yang dilakukannya selama ini. Ia hanya merindukan menatap lembut wajah-wajah yang dulu pernah disuapinya, mengusap lembut tangan-tangan yang dulu mungil dipegangnya dan digenggamnya kuat waktu belajar berjalan. Apakah itu sebuah kesalahan.?

Perawat itu memeluk erat wanita itu dan berkata lirih, “Ibu tidak sendiri di dunia ini..., ada Allah, ada saya, ada teman-teman ibu di sini..mereka merasakan hal yang sama..dan ibu bersama mereka bisa membentuk kebahagiaan sendiri....”. Kalimat itu tak diteruskan karena hujan air mata tiada sanggup ia bendung. Hanya pelukan hangat dan empati yang bisa ia berikan, semoga itu bisa meringankan beban yang selama ini ditanggung wanita tua itu.

Kedua wanita itu erat berpelukan dalam isak tangis dan di luar gegap gempita semakin ramai. Kedua wanita yang sebelumnya tiada pernah bertegur sapa, tiada pernah saling mengenal. Ibu itu tiada pernah mengandung perawat itu, tiada pernah menyusuinya, tiada pernah membelainya, tiada pernah menyuapinya, tiada pernah mengajarinya berbicara. Terkadang, saudara bis menjadi orang lain dan orang lain bisa menjadi saudara, yang lebih dekat dibandingkan putra sendiri.

--Bdg, 2 Januari 2003--

2 Comments:

At 11:44 PM, Blogger Davis F. S. said...

:) ,
Saya berharap sekali kalau anak ibu itu tidak dihakimi durhaka oleh penulis karena "pembaca ini" tidak tahu kenapa anak itu harus spt itu.

Terus Asih menulis, balasan saya ada di saluran priv. ke mail.

 
At 9:21 PM, Blogger Muhammad Arief Syuhada said...

=)... wow cuma itu satu kata buat tulisan yang benar2 menyentuh hati... lumayan memberi peringatan buat kita jangan sampai kita membiarkan ibu kita berakhir seperti itu =(... amiin

p.s: tulisan yang indah banget =) keep work it

 

Post a Comment

<< Home