Monday, May 31, 2004

Satu Jam Lebih Di Sini

“Dalam penelitian, observasi tidak dilakukan pada ruang sampel, tapi pada variabel numerik yang bersifat diskrit dan dikenal dengan sebutan variabel acak atau peubah acak atau variabel random yang merepresentasikan ruang sampel”

Aku menghela nafas pelan, suara dosenku masih terngiang-ngiang di kepalaku. Kuperhatikan wajah-wajah temanku, semuanya sedang larut dalam pikiran masing-masing. Semilir angin menyapaku pelan, kelembutannya menerpa halus jilbab biruku. Kupandangkan tatapan mataku ke luar. Sengaja kupilih tempat di dekat jendela agar sewaktu-waktu dalam kebosananku kutemui dunia lain, di luar sana.

Langit masih membiru dengan cerahnya, gumpalan awan menari-nari di atas panggung biru bersemu putih. Lalu datanglah serombongan burung yang beterbangan menembus batas cakrawala. Penampakannya hampir saja terlewati oleh tatapanku, tapi putihnya awan tak mampu menghalangi gerakan kepak sayap bersemangat dari sekumpulan burung itu. Jumlahnya puluhan atau mungkin ratusan dan bersatu memenuhi panggung biru yang berlahan mulai kelam.

Tatapanku beralih lagi ke arah depan. Dosen Matematika Diskritku ini masih saja bersemangat bercerita tentang peluang, kejadian, subset lalu menghubungkannya dengan situasi politik saat ini. Beliau punya argumen dan pandangan yang bagus serta begitu lihainya menghubungkannya dengan mata kuliah yang diajarnya. Lulusan ITB, Aktifis Salman, pengalaman bekerja di PT DI, logika hebat, dan wawasan yang luas adalah hal yang aku senangi dari dosen satu ini.

17.30
Aku masih di sini, di sebuah ruangan bercat coklat yang dipenuhi kurang lebih 20 mahasiswa. Tatapanku kembali lagi tidak mau lepas dari pandangan indah di sampingku, yang mampu kenikmati dari balik jendela ruang kuliahku. Dua panca indraku sekaligus bekerja, mendengarkan penjelasan dosen, dan menikmati keindahan ciptaan Sang Maha Pelukis.

Panggung biru itu telah diganti backgroundnya dengar warna jingga. Tokoh serombongan burung itu telah diganti. Keheningan yang menyapa diselimuti warna merah yang membakar. Warna awan telah disapu jingga juga, tapi tak henti-hentinya bergerak, ia tetap setia menari-nari di sana. Kini goyangan ufuk-ufuk pohon menjulang tinggi di kejauhan menampakkan keberadaannya. Terus menari, diiringi gamelan angin yang terasa semakin dingin menusuk.

Semakin lama, angin semakin menusuk tajam. Hawa dinginnya sudah tiada bersahabat lagi. Lalu awan kelam dari arah selatan datang berduyun-duyun. Sang jingga terdesak, ia tiada mampu menahan keindahannya lagi dan dengan ikhlas seluruh panggung tertutupi oleh gelap mencekam. Gamelan yang ditabuh sang angin semakin keras dan membabi buta, ufuk pohon itu semakin keras bergoyang. Ini bukan menampilkan estetika lagi , tapi ketakutan dan kegelisahan.

Hujan deras tiba-tiba turun diwarnai hawa kelam dan dingin. Beberapa hari belakangan ini kurasakan Bandung semakin dingin dan lembab. Cuaca sungguh tidak bersahabat seakan setiap hembusan anginnya membawa virus dan penyakit. Namun, inilah Bandung, kota yang sejak beberapa tahun lalu begitu kuimpikan dan kurindukan untuk menghirup udaranya. Alhamdulillah, ternyata Sang Penulis Pena Kehidupanku memberikan hadiah terindah padaku, sebagaimana doaku di usia 17-ku. Aku tidak saja mampu menghirup udaranya, tetapi saat ini aku telah bernafas bersama denyut kehidupannya, berlari bersama gerak jalur kisahnya, dan terlarut dalam dua kehidupan yang begitu kontras di depan mata, kebaikan dan keburukan.

Adaptasi dan perubahan adalah hal yang dulu amat kubenci. Setiap mendengar kata perubahan, perpisahan, lingkungan baru, seakan muncul sebuah monster naga raksasa bergigi runcing menyeringai di hadapanku. Tangisan dan ketakutan adalah beban yang behari-hari kutanggung. Padahal, lambat laun, realita yang kuhadapi sungguh berbeda dengan angan-angan ketakutanku itu. Dalam proses adaptasi, selalu ada hal baru yang hadir, selalu ada ilmu dan hikmah baru yang bisa dipetik. Dalam proses perubahan, selalu seakan ditempa oleh Sang Penempa Terbaik, seakan disentakkan dengan cemeti motivasi dan semangat untuk tetap berusaha memberikan yang terbaik, dalam lingkungan sesulit apapun. Hidup ini begitu indah dan bermakna.

Namun, kehidupan tidak selama indah. Seperti panggung langit yang tak selamanya cerah oleh warna biru atau menakjubkan oleh warna jingga. Terkadang awan kelam dan menakutkan datang memenuhi jagad raya dan membawa kegelisahan. Namun, kedatangannya membawa rahmat yang tercurahkan, air hujan yang turun membasahi bumi, yang lalu menyegarkan tanah-tanah yang gersang dan jiwa-jiwa yang kemarau. Satu sisi membawa kecemasan, satu sisi membawa kebaikan.

Dunia diciptakan berpasang-pasangan. Ada keburukan, ada kebaikan. Ada hitam, ada putih. Ada panas, ada dingin. Ada keras, ada lembut. Tidak ada yang paling baik di antara keduanya, keduanya bekerjasama mengalunkan nada-nada kehidupan ini. Kebaikan tidak akan pernah disebut bila tidak ada keburukan yang ditampakkan. Putih akan sulit terlihat bila hitam tiada mendasarinya. Panas adalah anugerah saat dingin beku menyelimuti. Kelembutan terkadang adalah senjata paling ampuh untuk mengalahkan kekerasan.

“jadi distribusi peluang akan menimbulkan peluang komulatif”

Aku tersentak dari pemikiran di awang-awang yang panjang itu, kata para ahli ‘mimpi bangun’. Kutata kembali hati dan kukonsentrasikan diri pada mata kuliahku kembali. Hujan di luar sana terus mengalir deras, tapi tak lama kemudian ia berhenti. Belakangan ini kurasakan hatiku telah terpecah belah dan saat ini ingin kureset kembali. Tiba-tiba aku merindukan Teteh, hampir seminggu lebih aku tidak bertemu dengannya. Pertemuan terakhir, kita sedang sama-sama diberikan ujian hati. Ketika baru saja ia memberikan tausiyah padaku, keesokan harinya ia benar-benar diuji dengan idealisme yang kemarin ditanamkan padaku. Subhanallah, aku hanya tersenyum.

Aku menyadari sesuatu, bahwa hidup ini tidak sendirian. Saat aku benar-benar merasa lemah dan sendiri, ia datang dengan senyuman dan mengulurkan tangan sambil berucap, “Ukhti, bagaimana kabar iman hari ini, bagaimana kabar kesehatan hari ini, dan …bagaimana kabar keuangan hari ini..?”, lalu kami tertawa bersama.

Dosenku hampir menyelesaikan materi hari ini. Minggu depan UAS sudah menjelang. Sayup-sayup sebuah lagu yang pernah menjadi favorit teman-teman mengalun…

Kan kujaga selalu, keutuhan cintaku
Pada-Mu tambatan hati, pada-Mu Illahi
Bilakah kau tentukan, teman di perjalanan
Kujadikan kesempurnaan, cinta pada-Mu Tuhan


---Bdg:Sabtu, 29 mei 2003---



3 Comments:

At 8:46 PM, Blogger R-Phan said...

ck..ckk..ckk.. hebat euy..asiih.. tambah pinter nich bikin cerita.. tapi.. kok ceritanya di bandung doank ya.. wach..wes lali ki karo ngalam..sekali-kali bikin donk cerita kenang-2 an moklet..hehe..

 
At 6:27 PM, Blogger Davis F. S. said...

Waaah, teruskan perjuanganmu kawan, UAS menunggu.
Tulisannya bagus sekali, terus menulis Dik Asih. Dan jilbabnya Bagus.

 
At 3:22 AM, Blogger Ragil Turyanto said...

wah hebat dan salut buat ukhti humaira(dik_asih)memang benar sih hakikat kehidupan sebenarnya yang saya rasakan sebagai orang rantau juga adalah me,di,ke.

Exp:menyuntik atau disuntik atau bahkan kesuntik.

pasti salah satu akan dihadapi.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua.

 

Post a Comment

<< Home