Monday, March 26, 2007

Skenario

Suatu hari seorang istri berkata kepada suami, “ayah, lihat ini uang simpanan ibu”. Suaminya menatap uang yang diperlihatkan istrinya sambil berkata, “Banyak sekali bu, darimana uang sebanyak ini?”. Istrinya tersenyum lalu berkata, “dari sisa uang belanja sehari-hari, Yah. Ibu kumpulkan selama berbulan-bulan hingga terkumpul sebanyak 900 ribu ini”. ”Lalu mau dibuat apa uang ini?”, tanya suaminya penasaran. ”Tidak tahu, Yah. Pasti suatu saat ada gunanya”.

Pembicaraan itu berlalu beberapa hari hingga suatu hari sang istri melihat pembantunya merintih kesakitan pada kakinya.
”Ada apa, Bi?”, tanyanya.
”Nggak apa-apa Bu, cuma kaki saya agak sakit”
”Ayo ke dokter, kita periksakan”.
”Nggak usah, Bu, cuma sakit biasa kok”.
”Bibi, kita ke dokter untuk memastikan semuanya baik-baik saja, ayo berangkat”.

Setelah kaki sang bibi diperiksa, hasil analisa dokter menyatakan bahwa kaki bibi terserang penyakit berbahaya dan harus dioperasi. Bibi sangat panik dan bertahan untuk tidak mau dioperasi karena pasti akan memakan biaya sangat besar. Namun, sang istri membujuk bibi agar mau dioperasi agar penyakitnya sembuh. Akhirnya bibi menyetujui untuk dioperasi.

Setelah operasi dilakukan sang suami bertanya pada istrinya. ”Ibu, darimana dapat uang untuk membayar operasi bibi?”. ”Ayah lupa ya, kan ibu punya simpanan dan alhamdulillah biaya operasinya pas 900 ribu”. Sang suami menepuk dahinya, ”Oh iya, tapi Bu uang itu kan ibu kumpulkan selama berbulan-bulan dengan susah payah dan sekarang habis untuk operasi bibi.” Istrinya tersenyum lalu berkata sambil bercanda, ”Ayah, nggak masalah uang itu habis. Daripada ibu yang dioperasi dan ibu yang harus membayar biaya operasinya lebih baik kan bibi yang harus dioperasi dan ibu yang membayarnya”.

Sederhana sekali kisah di atas, tapi kisah ini (pertama kali mendengarnya dari radio MQ FM) begitu berkesan bagi saya. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah singkat ini.

Hidup kita penuh dengan skenario. Ya, skenario indah dari Sang Pembuat Skenario. Siapa yang menggerakkan hati sang istri untuk mengumpulkan uang sisa belanja dan tak tahu akan digunakan untuk apa? Siapa yang memberikan penyakit pada bibi hingga harus dioperasi? Siapa yang menetapkan biaya operasi kaki bibi pas sejumlah uang sisa belanja yang terkumpul? Ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bisa muncul dan semuanya seolah sebuah kebetulan, tapi di baliknya adalah sebuah skenario yang indah.

Hidup kita adalah skenario panjang yang penuh kejutan dan misteri. Terkadang jika kita merenung sejenak dan me-review kembali benang-benang kehidupan kita di masa lalu dan kini, dapat kita temukan sebuah jalinan dan korelasi yang indah di antaranya. Kenapa dulu kita harus mengalami sebuah kejadian? Setelah kita review saat ini sering kita temukan jawabannya kemudian. Terkadang kejadian itu begitu menyakitkan bagi kita, tapi ketika hari-hari telah berlalu dan jawaban atas kejadian itu terungkap justru kita akan merasa sangat bersyukur mengalami kejadian itu. Terkadang, sesuatu yang kita kira baik untuk kita belum tentu baik untuk kita di mata Allah, dan sebaliknya sesuatu yang menurut kita tidak baik untuk kita belum tentu tidak baik untuk kita menurut Allah. Jadi, apapun yang diberikan kepada kita adalah yang terbaik, bukan menurut ukuran kita, tapi menurut ukuran Allah.

Seorang teman pernah berkata kepadaku bahwa hidup ini adalah seperti sebuah sekolah dengan Allah sebagai pembuat kurikulumnya. Sebuah pelajaran tidak akan diberikan kepada kita jika Sang Pembuat Kurikulum memutuskan kita belum siap untuk menerimanya. Mungkin, dengan berpikir seperti itu akan membuat kita lebih tenang dan tawakal. Seperti kisah seniorku yang kemarin harus kehilangan bayinya. Setelah kejadian itu berlalu, dia berkata kepadaku bahwa mungkin masih banyak hal yang menjadi amanahnya dan harus segera diselesaikan, salah satunya kuliahnya yang sudah molor setahun dan masih banyak mata kuliah yang harus diambil. Ya, semua pasti ada hikmahnya. Seorang teman satu kost juga pernah bercerita bahwa sekarang ia sedang bingung karena begitu banyaknya orang yang ingin bertaaruf dan melamarnya. Hmm, aku hanya berkomentar seperti kata temanku, sebuah pelajaran tidak akan diberikan jika kita belum siap menerimanya jadi kalau sekarang sebuah pelajaran diberikan, Sang Pembuat Kurikulum mungkin menganggap kita sudah pantas untuk menerimanya, dengan kata lain teman satu kostku itu mungkin memang sudah waktunya untuk segera memutuskan memilih ’teman sejati’-nya. Satu tambahan lagi, yang pasti ketika sebuah pelajaran datang pada kita, Allah juga sudah menyiapkan bekal untuk kita agar bisa melalui pelajaran itu. Jangan takut dan resah jika sesuatu yang sangat kita harapkan belum dikabulkan, terus berdoa dan berikhtiar, sambil menunggu ’pelajaran’ itu siap kita dapatkan.

Pelajaran kedua, seringkali kita menyepelekan nikmat yang diberikan oleh Allah dan pada setiap kejadian buruk yang kita alami pasti masih ada yang bisa kita syukuri . Kesehatan, bisa melihat, bisa mendengar, terlahir sebagai anak normal adalah nikmat yang sangat besar. Nikmat, tidak harus berupa harta benda, materi, atau berbentuk fisik. Seseorang berkata harta manusia itu ada 3, makanan yang jika sudah kita makan akan jadi kotoran, benda-benda yang jika sudah kita pakai akan usang, dan sedekah yang akan jadi simpanan kita di akhirat. Jangan takut untuk sedekah dan menghabiskan uang kita untuk membantu orang lain karena siapa yang meringankan beban saudaranya di dunia maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat. (kayaknya justru ini simpanan harta kita yang terbesar ya??).

Madiun, 26 Maret 2007

Monday, November 20, 2006

Siap menerima & siap kehilangan

Siap Menerima & Siap Kehilangan

Aku memiliki sahabat dekat di kampus, kakak kelas angkatan 2002 yang biasa kupanggil “teteh”. Sebenarnya hubungan kami biasa-biasa saja seperti hubunganku dengan teteh-teteh yang lain. Namun, ada beberapa hal yang membuat hubungan kami menjadi tidak biasa, satu : tanggal ulang tahun kami hanya selisih satu hari, dua : hari pernikahan kami pun selisih satu hari pula, tanggal 26 April 2006 dan tanggal 27 April 2006, tiga : setelah menikah kami sama-sama jauh dari suami. Sebuah kebetulan memang.

Bulan April telah berlalu dan kami menjalani kuliah bersama seperti biasa hingga hari itu tiba, ketika teteh dengan berbinar berkata padaku bahwa dia hamil. Aku senang sekali mendengarnya, emh akan ada keponakan baru nih, dan itu berarti keponakan pertama di keputrian Az-Zahra kami. Sejak itu, aku jarang bertemu teteh lagi, menurut teteh-teteh yang lain teteh memang jarang kuliah. Dengan kondisi hamil muda yang disertai mual dan muntah yang berkepanjangan pasti cukup berat untuk masuk kuliah setiap hari hingga semester genap saat itu bagi teteh berlalu begitu saja karena tidak dapat mengikuti UAS.

Bulan September menjelang bersama mentari yang cukup panas dan terik di Bandung, suhu tertinggi Bandung dalam sejarah, 26 derajat Celcius….wuihh….

Bulan ini perkuliahan semester ganjil dimulai dan kudengar teteh mengambil cuti. Emh, senangnya teteh diberikan kelonggaran untuk beristirahat selama hamil. Sedangkan aku, bulan ini walaupun hamil muda tetap harus semangat kuliah. Mual dan muntah…? Emh, alhamdulillah nggak terasa tuh karena sudah didisposisikan ke suami (memangnya Nota Dinas yach pakai disposisi segala), he..he..he…(sampai semua bertanya, ini beneran hamil nggak sih, kok nggak ada mual muntahnya, jadi nggak seru dong…ternyata ibu dan ibu mertuaku juga nggak mual & muntah tuh selama hamil pertama ).

Ramadhan datang dan pergi, Syawal menjelang bersama harapan kesucian di hati dan hari-hari baru dengan sinar matahari hangat di kalbu. September…Oktober…November…kubalik-balik kalender di meja. November…!!! Teteh sudah mendekati hari melahirkan. Pada bulan kelima kehamilannya lalu kudengar teteh harus bed rest karena letak janin terlalu ke bawah, jadi kemungkinan mulai bulan ketujuh harus siap jika lahir prematur. Setelah liburan lebaran aku belum sempat bersilaturahmi ke rumah teteh hingga hari Jumat lalu sebuah SMS datang. Surprise, dari teteh…!!

“Alhamdulillah, teteh sudah melahirkan, tapi bayinya meninggal, minta doanya ya….”

Aku terpaku membaca SMS itu, antara percaya dan tidak percaya. Segera aku menghubungi teteh-teteh yang lain, yang ternyata juga sudah mendapat sms dari teteh. Hari itu juga aku pergi ke rumah sakit dan menjenguk teteh. Di atas tempat tidur yang putih bersih itu, dia terbaring lemah dengan wajah pucat dan senyuman manis. Aku bingung harus berkata apa, hanya ucapan, “sabar ya teh, insyaAllah adeknya akan jadi penolong teteh di Sidratul Muntaha nanti”. Teteh banyak bercerita tentang kejadian itu, kenapa adek sampai meninggal. Katanya, terlilit plasenta di dalam perut, tetapi tidak terdeteksi sejak dini sehingga waktu periksa detak jantung sudah tidak ada. Saat ini juga teteh masih ingat sakitnya melahirkan. Aku jadi teringat dan berfikir, kata orang melahirkan memang sakit, tapi semua rasa sakit itu akan sirna ketika mendengar tangisan bayi dan memandang si mungil itu. Namun, ini teteh melahirkan bayi yang sudah meninggal dalam kandungan. Aku hanya bisa berkata, “sabar ya teh, insyaAllah untuk setiap kesakitan akan dihapuskan satu dosa hingga semua dosa berguguran dan teteh kembali suci”, lalu kami tertawa. “Dijaga ya si Oton*”, pesannya kepadaku sambil tersenyum.

Aku tidak bisa memperlihatkan wajah sedih di hadapan teteh, hingga 2 jam lebih aku menungguinya kami banyak bercerita dan tertawa. Namun, ketika aku berpamitan dan pulang aku tidak bisa membendung air mataku, aku benar-benar sedih dan menangis. Rasanya pasti berat sekali bagi teteh dan bagi kami, teman-temannya pun ini terasa menyedihkan. Hingga hari Sabtu, ketika suamiku datang aku curhat tentang teteh sambil tak kuasa untuk menangis. Mas hanya berkata, “ya begitulah Dhik, ketika siap menerima berarti kita juga harus siap kehilangan”. Aku terus mengingat kata-kata itu. Ya, ketika kita siap menerima berarti harus siap kehilangan karena semua hanyalah titipan. Ketika kutatap wajah suamiku, aku jadi berpikir bahwa suatu saat pun aku harus siap kehilangan suamiku. Ketika kuteringat orang tuaku, suatu saat pun aku harus siap kehilangan orang tua. Ketika aku mendapatkan sesuatu berarti aku juga harus siap melepaskannya. Simple sekali, siap menerima = siap kehilangan. Namun, terkadang kita terlena dengan apa yang ada di tangan kita dan tidak menyadari bahwa semua itu hanya titipan. Harta, suami/istri, anak-anak, sahabat, saudara, semua hanya titipan. Bukankah akan tiba suatu hari dimana masing-masing begitu egois untuk membela diri dan menyalahkan orang lain, tidak peduli ayahnya, ibunya, suami/istrinya, saudaranya, anak-anaknya, kecuali tali ikatan yang didasari oleh keimanan.

Saat kutulis artikel ini, kuusap perutku perlahan dan aku berkata lirih pada janin berusia 137 hari yang dititipkan dalam rahimku ini, “Adek, suatu saat pun ummi harus siap kehilanganmu”.

Nb: si Oton : panggilan Sunda untuk menyebut bayi yang masih dalam kandungan

Bandung, 21 November 2006

Tuesday, April 11, 2006

Wanita & APP

Trans TV, Insert Pagi pukul 07.00 ...bersama Irfan hakim & Nira Stania....(bukannya senang nonton gosip artis loh, pas kebetulan nonton Sentuhan Qolbu trus TV belum sempat dimatikan...:)...)

Saat ini akan disyahkannya Undang-Undang APPmenjadi fenomena pro dan kontra tersendiri dalam masyarakat Indonesia. Ada sebagian masyarakat yang pro dengan UUAPP karena melihat kerusakan moral bangsa Indonesia(sssttt...yg katanya memiliki jumlah umat Islam terbesar di dunia ini) sudah begitu parah(atau bahkan karena begitu parahnya tidak ada kata-kata 'indah' yang mampu mengungkapkan hingga penulis berfikir, ya Allah kasihan anak cucuku nanti jika keadaan ini terus berlangsung tanpa ada perbaikan, ya harus ada perbaikan, paling tidak dari diri dan keluarga kita).

Di sisi lain, masyarakat begitu kontra dengan rencana akan disyahkannya UUAPP ini. Apa pasalnya? Mereka menganggap dengan adanya UUAPP ini akan mengancam pekerjaan mereka, pekerjaan menjadi penyanyi dengan goyang hebohnya, model, artis, bahkan sampai dikaitkan pada masalah pariwisata, masalah ini dan masalah itu.... Hubungannya dengan insert pagi apa ya? Dalam insert pagi hari ini ditampilkan seorang artis yang pasti sudah kita kenal semua kehebohannya beberapa tahun lalu, yup dialah Mbak Inul Daratista yang terkenal dengan goyang ngebornya. Mbak yg satu ini dengan tegas menolak adanya UUAPP karena merasa ke-exist-an dirinya terganggu, kebebasan dirinya juga terganggu, hak azasinya sebagai manusia untuk bebas berekpresi juga terganggu, dan mbak ini kasihan pada rekan-rekan 'sekaumnya' yang pasti akan terancam kehilangan pekerjaannya. Salah satu petikan kata-kata mbak ini adalah sebagai berikut, ya nggak bisa dong UUAPP ini diterapkan di Indonesia, nanti Indonesia akan jadi satu warna, satu agama, satu kultur saja, ya nggak bisa gitu. Hemm, yang lebih hebat lagi mbak ini mengatakan seperti ini, memangnya Indonesia mau dijadikan negara Thaliban, semuanya harus berjilbab, wanita gk boleh keluar rumah semua. Upps, istigfarlah.

UUAPP ini tidaklah ada hubungannya dengan menjadikan Indonesia sebagai negara Thaliban, tapi merupakan suatu usaha wakil-wakil rakyat kita di DPR yang masih peduli dengan kerusakan moral bangsa dan berusaha mencegahnya dengan tindakan yang tegas melalui jalur Undang-Undang sehingga pelakunya bisa dijerat dengan hukum. Penulis juga merasa heran dengan sikap masyarakat Indonesia yang begitu sulit diajak untuk 'hijrah' pada kebaikan dengan berbagai dalih dan alasan. Sungguh miris sikap kita dibandingkan sikap sahabat-sahabat Rasulullah dahulu. Ketika suatu ayat turun, beliau2 bersegera mengikuti dan tunduk pada larangan/perintah tersebut. Tersebutlah setelah turun ayat yang mengharamkan kamr, para sahabat segera berlari ke seluruh penjuru kampung dan mengabarkan hal itu. Saat itu terdapatlah segerombolan orang yang sedang meminum arak, sebagian dari mereka separuh gelasnya telah habis diminum dan separuhnya lagi siap untuk diminum, sebagian dari mereka ada yang bibirnya telah menyentuh bibir gelas berisi arak dan tinggal sedetik lagi air itu akan masuk ke dalam mulutnya. namun, begitu mendengar seruan itu mereka segera membuang semua gelas dan memecahkan kendi-kendi berisi arak dan mereka berlarian ke rumah-rumah mereka untuk mengabarkan hal itu dan menghancurkan semua guci-guci besar berisi arak di dalam rumah mereka yg telah disimpan bertahun-tahun, dan jadilah Mekkah waktu itu banjir dengan arak yang terbuang, Subhanalloh.

Ssstt ngomong-ngomong memangnya kenapa kalau Indonesia jadi negara Thaliban(just kidding loh ...:D..). Sepertinya 'adem', 'ayem', dan 'tentrem' ya melihat wanita-wanita berpakaian dan berkerudung sopan dimana-mana dikala mata memandang. Mereka berlaku sopan dan mampu menjaga diri dan kehormatannya. Mereka menundukkan pandangannya, menunjukkan rasa malu, dan tidak menunjukkan sikap yang mampu menggoda laki-laki(kecuali terhadap suaminya loh). Ssstt memang apa salahnya kalau wanita dianjurkan untuk tinggal di rumah. Di dalam rumah, mereka menjadi madrasah utama dan pertama bagi anak-anaknya. Di dalam rumah mereka menjaga kehormatan dan harta suami dan keluarganya. Di dalam rumah mereka bersedekah dengan melakukan banyak kebaikan dan pekerjaan yang sebenarnya bukan kewajiban istri; memasak, mencuci baju, mengepel, dll(kaum laki-laki nggak boleh protes karena ini dinyatakan oleh seorang ustadz dlm suatu kajian keluarga sakinah loh :D ). Di dalam rumah mereka bisa belajar banyak hal, bisa mempunyai waktu yang cukup luang untuk mentadabburi Al-Quran, menghapal Al-Quran, dan mempersiapkan rencana-rencana penuh semangat untuk mengamalkan Al-Quran bersama keluarga.

Hemm sepertinya ada banyak hal lain yang yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang penting satu kata, 'produktif'..'produktif'..dan 'produktif'. Pernah dengar belum kultur di negara jiran kita, Malaysia. Menurut salah seorang teman, ada trend baru di negara Malaysia, yaitu kaum wanita dianjurkan untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin(paling tidak S2), tetapi trend itu tdk diikuti dengan semakin pesatnya karir wanita di luar rumah, justru sebaliknya ketika mereka menyelesaikan studinya, mereka kembali ke rumah dan fokus kepada keluarganya, mendidik anak-anaknya dengan bekal pengetahuan yang selama ini mereka dapat. Jadi, dapat dibayangkan betapa bagus kualitas SDMnya(kualitas SDM tentu tdk hanya dihubungkan dengan IQ saja kan, moral, akhlak adalah hal yg tidak bisa dipisahkan). Pernah dengar belum, kisah wanita di negara-negara perintis feminisme di Eropa nun jauh di sana. Di kala negara-negara Asia kini menjadi pengikut setia gerakan feminisme ini, ternyata di sana terjadi perubahan cara pandang yang sangat bertolak belakang dengan prinsip-prinsip feminisme. Kaum wanita dan ilmuwan di sana telah menyadari dampak yang timbul karena gerakan feminisme ini, keluarga yang hancur, moral bangsa yang hancur, atau bahkan bangsa itu akan hancur pelan-pelan seiring masa(ya iyalah katanya wanita tiang negara gitu lohhh...). Jadi, begitulah kini wanita-wanita itu mulai kembali ke rumah dan fokus mengelola rumah tangganya.

Kembali ke masalah APP, lagi-lagi wanita menjadi fokus(sepertinya membicarakan wanita kok nggak ada habisnya yach). Wanita adalah makhluk yang lembut dan unik. Seharusnya dia dilindungi dan diayomi, bukannya dijadikan objek penderita dan mesin uang bagi pihak tertentu. Wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, jika ia dibiarkan ia akan 'bengkok', jika ia diperlakukan keras ia akan 'patah', tuh susah ya, jadi harus ada pencampuran seimbang dalam memperlakukannya, diantara kelembutan dan ketegasan. Jadi, UUAPP ini adalah salah bentuk perlindungan terhadap kaum wanita, bukan sebagai pengekang gerakan kebebasan. Jika merasa pekerjaannya terancam, maka pikirkanlah untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Jika merasa pariwisata terancam, maka carilah solusi dan jadikanlah objek wisata yg lain(penulis yakin masih begitu banyak objek wisata yg bisa diekspos dibanding objek wisata 'yang begituan') sebagai tujuan wisata yang menarik, asal dikelola dengan baik dan disiplin yang tinggi.

Jadi buat rekan-rekan yang setuju dengan UUAPP yuk kita mulai mendukungnya, kembali lagi mulai dari diri dan keluarga kita, mulai dari hal-hal yang kecil, dan mulai dari saat ini juga. Semoga kita dijadikan khalifah yang terbaik di dunia ini, paling tidak khalifah bagi diri kita sendiri. Semoga kita digolongkan dalam salah satu barisan yang memperjuangkan agama-Nya.

-- Bdg, 11 April 2006 --

Tuesday, April 04, 2006

Tragedi Pagi Hari

06.00
Aku sedang menangis tersedu-sedu... Tiba-tiba terdengar sebuah suara lirih, "Axxxx sakiit...telingaku kemasukan sesuatu". Aku terkejut, itu kan suara tetangga sebelahku. Segera aku menemui dia dan kulihat di telinganya sdh menetes darah segar.
"Uni kenapa?", tanyaku khawatir.
"Ada yg masuk ke telinga dan sekarang sdg menggigit-gigit, perih sekali.."
"Coba dikasih air..", saranku.
Teman yg lain segera berdatangan, "Kenapa sih..? Aduh Uni kenapa"
Uni mulai tidak tahan dengan rasa sakitnya dan menangis sambil duduk di pintu kamar mandi. Aduh, gimana nih!
"Biasanya keluar sendiri kok Uni, telinganya digerak-gerakkan aja", usulku.
Uni masih menangis. Segera kutelepon dokter langganan kami...
"Assalamu'alaikum, ibuuuu, telinga teman saya kemasukan sesuatu, katanya sekarang sdg menggigit-gigit sampai berdarah loh bu, gimana dong bu..", tanyaku panik.
"Bawa ke UGD aja secepatnya, nanti disana ada alat untuk mengeluarkannya kok", saran beliau tenang.
"Terima kasih bu, Assalamu'alaikum wr wb"
"Uniii, sekarang ganti baju dan kita ke UGD"
Bergerak cepatlah kami berdua untuk ganti baju, aku dan Uni takut sekali kalau terjadi apa-apa, aplagi yang diserang kan bagian telinga.

06.30
Kami segera pergi ke UGD ST Borromeus dengan naik angkot. Kira-kira 10 menit kami sampai dan segera melakukan pendaftaran. Dokter dan assistennya segera datang dan memeriksa telinga Uni. Cukup lama juga untuk mendeteksi makhluk apa yang masuk ke telinganya. Akhirnya beberapa lama kemudian mbak assisten berhasil mengeluarkan makhluk itu. Ast
agfirullah, makhluknya besar sekali, aku tdk habis pikir bagaimana bisa masuk ke telinga. Pantas saja Uni merasakan perih dan sampai berdarah.

Di tengah-tengah menunggu Uni, adik laki-lakiku menelepon.
"Mbak, aku sakit, enaknya masuk kerja nggak?"
"Sakit apa, adik sayang?"
"Mataku sakit 'beleken'", gimana ini mbak, masuk nggak..."
"Masuk aja, tapi pakai kacamata hitam..hehehehe..", aku becandaian dia.
"Mbak..."
"Kata dokter gimana, sdh berobat belum"
"kemarin sdh beli obat di apotik, tapi belum ke dokter"
"Trus..."
"Ya gimana dong mbak.."
"kalau sakit banget ya nggak usah masuk..."
"Gimana ya, aku telepon ibu aja ya mbak.."
"Ya, ...."

Uppff, sekarang sepertinya sedang musim penyakit. Tadi pagi pas bangun hidungku sdh terasa tersumbat, sepertinya aku juga mau terserang flu, penyakit bawaan sih kalau mau ujian pasti flu. Kesehatan adalah nikmat yang sangat mahal, tetapi terkadang terlalaikan. Saat kita sehat seringkali melupakan nikmat satu ini dan tidak berusaha menjaganya. Katanya sebagaian besar penyakit berasal dari perut yg artinya dari makanan. Memang benar, makanan sangat berpengaruh bagi kita, sampai-sampai Allah berfirman khusus agar manusia memperhatikan makanannya yaitu dalam QS 'Abasa: 24

"fal yanzhuril insaanu ilaa tha'aamih" (Hendaklah manusia memperhatikan makanannya)

Hari ini bila ada teman, saudara, kakak, adik yang sedang sakit, semoga diberikan yang terbaik oleh Allah.

"Ya Allah ampunilah daku, rahmatilah daku, kayakan daku, angkatlah darjatku, rezekikanlah aku, berilah aku hidayah, sihatkanlah aku dan maafkanlah aku." (doa antara 2 sujud)

Tuesday, March 28, 2006

Balada KP 1

Assalamu'alaikum wr wb

Alhamdulillah, hari ini proposal KP(kerja praktekku) disetujui. :) Kerja Praktek adalah salah satu mata kuliah wajib di jurusan Teknik Informatika di kampusku. Karena aku ada pekerjaan membuat aplikasi di kantor maka kujadikan saja pekerjaanku itu sebagai bahan KP, hehehe. Setelah 2x aku berkonsultasi dengan Sekjur, dosen yg bertugas mengurusi KP, akhirnya KP-ku disetujui juga.

Catatan kecil pada proses Kp-ku ini adalah:
  1. Awal Januari : aku sdh mulai merancang aplikasi dan sdh berkonsultasi dengan pegawai yang akan jadi pembimbing dari perusahaan
  2. Februari : Aku mulai mengumpulkan informasi tentang Kp dari Teteh2 yang sdh lulus KP, mencari buku pedoman penulisan KP, dan setahap demi setahap mulai menyusun proposal.
  3. Awal Maret : aku sdh membuat quisioner dan mengedarkannya ke beberapa pegawai di unitku, tanggapan beliau2 bagus dan hampir 100% setuju bahwa aplikasi yang kurancang memang dibutuhkan
  4. Tengah Maret : proposal sudah oke dan siap kuajukan, aku ajukan proposal pada tanggal 24 Maret 2006
  5. Akhir Maret : proposalku disetujui dgn dosen pembimbing Bpk Heri Purwanto (sstt..ini salah satu dosen favoritku loh :D ) dan beliau meminta aku meneruskan Bab II dan bab III, Alhamdulillah

Sekarang aku harus semangat mengerjakan KP dan tidak boleh malas-malasan karena aku berpacu dengan waktu dan target(minta doanya ya semoga aku bisa lulus 3.5 tahun, amiin). Saat aku malas, aku mengingatkan diri sendiri tentang ucapan Ustdz Hasan Al Banna(semoga Allah merahmati beliau) bahwa pekerjaan kita begitu banyak dan 24 jam tidak cukup untuk kita. Selain itu ada seorang teman yang pernah mengucapkan kata-kata yang begitu indah, "Bagi orang beriman tidak ada kata istirahat di dunia ini, istirahat orang beriman adalah di akhirat nanti", Subhanalloh banget. Yach, pekerjaan kita begitu banyak! Semangat, Allahu Akbar!!


Kemarin, selama 2 hari yaitu tgl 25-26 Januari aku mengikuti IBT (kami becandain bacanya jadi : Ihhhh Be Te :P) yaitu Islamic Basic Training yang diadakan oleh DKM Hamzah & LDK di kampusku. Subhanalloh, acaranya bagus banget. Ada materi makrifatullah yg dikemas dengan gaya anak muda dan materinya keren banget. Selain itu ada materi kepemimpinan yang juga bagus dan diskusi yang menarik. Acara seperti ini kupikir sangat bagus sekali apalagi di tengah kelesuan & ketidaktertarikan mahasiswa pada hal-hal yang berbau agama. Materi yg dulunya dikemas begitu berat (apalagi judulnya sudah berat : mengenal Allah) kini dikemas dengan presentasi yang menarik, diiringi music lembut, dan kata2 anak muda yang singkat, tapi dalamm. Oh ya, aku mau minta bahan presentasinya ke DKm ah.


Selama pelatihan itu aku benar2 termotivasi untuk memperbaiki hidup ini, mereview kembali kehidupan yang telah lalu dan mulai merancang kehidupan yang penuh makna agar berhasil menjadi orang sukses(dunia & akhirat). kehidupan ini bagaikan kehidupan seorang pengembara yang sedang berhenti di bawah pohon kurma di tengah padang pasir, sedangkan perjalanan itu masih begitu panjang. (Subhanalloh, semangat banget nih!!) Semangattt, Allahu Akbar!!
Wassalamu'alaikum wr wb

Thursday, January 12, 2006

Tahun Baru, semangat baru

Assalamu'alaikum wr wb.
Alhamdulillah, lama sekali aku tidak menulis catatan di blogspotku ini. Emmm sudah hampir setahun..subhanalloh... Selama hampir setahun ini sudah banyak sekali yg telah terjadi dan setahun yang akan datang pun akan ada banyak kejadian yang sudah menanti. Setahun yg telah berlalu aku banyak sekali belajar tentang kehidupan, tentang kepasrahan, tentang ketegaran, tentang kesabaran, dan masih banyak hal lainnya. Setahun yang akan datang pun, insyaAllah, aku akan banyak belajar tentang hidup dan memaknai hidup. Satu hal penting yang kudapat di tahun kemarin adalah, menjadi apapun kita maka lakukanlah yang terbaik. InsyaAllah.
Wassalamu'alaikum wr wb.

Monday, March 28, 2005

Catatan Kecil

Dimulai dari hari ulang tahunku di tahun lalu, aku mulai tinggal di kostan baru. Sebuah kostan yang terletak di Jln Dipati Ukur dengan kesibukan lalu lintas yang tiada pernah berhenti. Awal aku menempati ruang bercat kuning dan berlantai keramik itu, kesulitan mulai terjadi. Tetangga kamar sebelahku membunyikan TV sangat keras. Upppfff, aku benar-benar tidak bisa tidur. Di luar suara kendaraan bermotor begitu mengganggu dengan suara klakson yang memekakkan telinga. Aku sempat berfikir, sanggupkah aku di sini?

Hari-hari berlalu dan tiba-tiba semua menjadi biasa. Tetangga kamar sebelah tidak lagi membunyikan TV keras-keras dan suara-suara mobil di luar kubayangkan suara binatang malam dalam kesunyian dan kedamaian suasana di desa. Kehidupan terus berjalan dan hal-hal baru selalu hadir.

Bila berjalan sebentar ke arah timur kost-kostan, dijumpailah hiruk pikuk pasar Simpang, yang sepanjang hari selalu ramai, mulai dari pagi-pagi buta hingga larut malam. Pagi-pagi buta berdatanganlah penjual sayur-sayuran yang membawa barang dagangannya yang masih segar. Jika ingin mencari sayuran segar hendaknya berbelanja kurang dari pukul 06.00 karena selepas itu tinggal sayuran layu dan tidak segar lagi yang tersisa. Pada hari minggu biasanya aku mengantar Teteh di kostan berbelanja sayuran. Subhanalloh, senang sekali rasanya melihat sayur-sayuran dan buah-buahan yang begitu segar. Selama 5 hari setia 8 jam di depan komputer, tentu menyenangkan sekali bagiku melihat warna-warni yang terhampar bak permadani di hadapanku. Selain itu, aku mempunyai misi tertentu ikut Teteh berbelanja, browsing makanan tradisional. Sudah beberapa kali aku menemukan makanan tradisional yang kuingat mungkin ketika masih SD/SLTP aku terakhir kali memakannya. Ada ‘hawuk’, ‘lopis’, dan ‘grontol’. Alhamdulillah, senang sekali.

Siang menjelang dan kesibukan mulai pudar. Kemacetan di sekitar Pasar Simpang pun datang dipenuhi hiruk pikuk klakson nan bersahutan, peluh keringat kepadatan orang berlalu lalang, ataupun wajah suntuk penumpang angkutan. Inilah Bandung dengan kemacetannya yang, emmmm nggak “elite”, kata sebagian orang.

Bandung, yang dulu terkenal dengan kesegaran udara dan dinginnya yang khas, saat ini bisa dikatakan tinggal kenangan. Menurut informasi dari temanku, sejak jaman penjajahan Belanda dulu, telah dibuatkan standar kepadatan penduduk dan peraturan tidak boleh dijamahnya Bandung Utara(daerah Dago atas, puncrut, dan sekitarnya) untuk pembangunan karena daerah inilah yang menjadi hutan tadah hujan dan menjaga keseimbangan air tanah di Bandung. Bila daerah ini tidak dijaga, Bandung yang berelief daerah Cekung ini tentu akan rawan sekali, pertama terhadap tanah longsor, kedua terhadap kemungkinan sulitnya menemukan sumber air. Kini, di daerah tersebut telah banyak dibangun perumahan dan pembangunan jalan. Penduduk Bandung dikabarkan telah mencapai 5x standar kepadatan penduduk yang dulu ditetapkan pemerintah Belanda. Beberapa teman yang orang asli Bandung juga mengeluhkan jumlah penduduk yang semakin padat dan ternyata sebagian besar berasal dari daerah luar Bandung yang bekerja (termasuk aku donggg….). Kepadatan penduduk ditunjang dengan jumlah mobil yang sangat banyak, tetapi tidak didukung dengan fasilitas jalan yang lebar dan pengaturan jalur perjalanan yang bagus membuat Bandung begitu semrawut, terlebih di hari libur dimana banyak pengunjung dari luar bandung berdatangan. Di pagi hari juga polusi di Bandung bisa dirasakan. Tidak tahu bagaimanakah situasi Bandung beberapa tahun lagi. Bandung…oh..Bandung...

Ketika mentari melambaikan tangan dalam bingkai jendela kejinggaan yang tersapu lembut awan, kemacetan itu seolah tak menghiraukannya. Mentari pun dibalutnya dengan kekecewaan, ketika peringatan akan bergantinya hari-hari di tahun hijriyah menjelang, senja hari, seolah terlewatkan dengan kesibukan, mengejar setoran angkot, mengejar waktu sampai ke rumah tepat waktu, mengejar keuntungan dalam berdagang, dan mengejar belas kasihan dari sang penderma. Kekecewaan mentari semakin dalam, ketika ia harus berpisah dengan bumi, ketika alunan penyeru ketaqwaan berkumandang ke seluruh jagad raya, dan ketika malam semakin nyata menggantikannya, tetapi orang-orang itu tiada beranjak untuk berkeluh kesah kepada kekasih-Nya.

Malam hari, pasar Simpang semakin ramai. Warung-warung di pinggir jalan mulai buka dan menghadirkan bermacam masakan. Tenda-tenda kecil dengan lampu neon yang terang atau suram dan kepulan asap dari kompor tempat masakan diolah adalah suasana khas tersendiri diantara kesibukan jalan dengan jumlah kendaraan yang semakin bertambah. Hilir mudik mahasiswa dengan penampilan khasnya, kaos santai, celana jeans, sepatu boats, dan tas punggung besar, yang sedang mencari makan memenuhi sepanjang jalan. Perempatan Simpang adalah tempat strategis dimana hampir semua angkot melalui jalan ini. Dengan berjalan kaki beberapa puluh meter darinya akan ditemui kampus ITB dan UNPAD yang amat terkenal dari kota ini. Pada malam seperti ini, biasanya aku berburu makanan tradisional yang hanya disajikan di malam hari, namanya “putu”. Aku sangat senang sekali makanan ini.

Inilah catatan kecilku tentang kostan baruku dan kota Bandung. Saat aku menulis catatan kecil ini, di luar udara begitu dingin dan mendung menyelimuti di seluruh langit. Dari lantai 4 inipun, mobil-mobil yang terlihat seperti mobil-mobilan sedang digerakkan di sepanjang jalan Surapati, sebagiannya berbelok ke arah utara, melewati jalan Bagus Rangin, melewati Dipati Ukur, dan aku tahu akhirnya ia akan melewati Perempatan Simpang.